Jatuh Cinta …….. ? Lagi?

Standar

Dimuat di Kompasiana 11 may 2010  http://www.kompasiana.com/lipstick/page/3/

when a man loves man (animepaper.net)

“Kamu harus sabar, walaupun setiap hari ada orang yang meninggal, tapi tidak semuanya mau mendonorkan organ tubuhnya”, wanita itu menyabarkanku, pria yang sangat dicintainya.“Hmmmph….. memang mudah mengatakan sabar…. sabar, sampai kamu bisa merasakan kegelapan selama 24 jam terus menerus! Belum lagi dadaku yang sakit ini menganggu aktivitasku sehari-hari!”, keluhku, kurapatkan bibir dan kehembuskan nafas dengan pelan-pelan menahan sakit.

*****

“Bertahanlah sayangku, kau harus bisa bertahan ….. jangan tinggalkan aku sendiri”, laki-laki itu menangis pelan, tak sanggup rasanya melihat penderitaan kekasih hatinya.

Mata kekasihnya yang selalu berbinar-binar, kini tampak redup menahan sakit yang telah dideritanya. Laki-laki itu terus berdoa sambil menggenggam jari-jari lentik yang melemah.

*****

“Gila! Manusia apa aku ini, semua yang ada di tubuhku bukan punyaku, bekas kepunyaan orang lain, ya….. bekas orang lain!” aku memaki-maki wanita itu. Kenapa….? Karena hanya dia yang ada di ruanganku.

“Sudahlah, jangan mengeluh! Capek aku mendengar keluhan mu terus menerus! Paling tidak kamu harus bersyukur bahwa Tuhan masih mau memberi kamu kesempatan hidup lebih lama. Beruntung …… , masih ada keluarga yang merelakan bagian dari tubuh orang yang mereka cintai ada pada dirimu sekarang ini!” wanita itu menghardik sambil membanting pintu. Blaaamm!!!

Bersyukur? Apa benar aku harus bersyukur? Mereka sama sekali tidak tahu apa yang kurasakan sekarang ini, rasanya lengkap sudah penderitaanku. Setiap aku melihat dia, jantungku berdegup lebih cepat, ada perasaan aneh yang menjalari seluruh tubuhku. Aneh, seharusnya perasaan ini tidak boleh muncul, ya….. ini seperti perasaan orang lagi jatuh cinta. Aku tak bisa seperti ini terus……

*****

“Hai, bagaimana keadaanmu? Sudah lebih sehat kayanya…… Jangan terlalu diforsir ya, ingat kesehatanmu. Semoga dengan sembuhnya kamu, karya-karyamu akan lebih banyak lagi untuk majalah photography kita”, salam dia sambil menepuk-nepuk bahuku.

Aku tersenyum, sambil memegang dadaku. Jantungnya berdetak kencang! Tenang………..ya, tenang…. , aku menarik nafas perlahan-lahan untuk menenangkan detak jantungku. Yakin! Ini bukan karena jantungku bermasalah lagi, tapi setiap kali dia ada di dekatku, setiap kali aku memandang dia, detakan jantungku menjadi tidak beraturan. Walaupun pada awalnya aku sangat khawatir dan sempat konsultasi dengan dokter Alex, hasilnya jantungku baik-baik saja. Bahkan sangat baik untuk ukuran jantung cangkokan!

“Wow…. sekarang ini kamu banyak berubah ya? Karya-karyamu tidak segarang dulu, kamu lebih lembut, lebih feminim….. melow…., apa karena kamu sudah melewati …apa itu yang dinamakan orang…. hmmmm…. bangkit dari kematian?”, dia menatapku, sambil memegang hasil jepretanku beberapa minggu terakhir ini.

Please, stop menatapku seperti itu! Tergagap-gagap aku menjawab dan seketika timbul rasa khawatir kalau dia bisa mendengar detakan jantungku, “Ma…maaf! Tidak sesuai dengan tema bulan ini ya? Saya bisa hunting lagi, masih ada waktu kok … eh…sampai naik cetak. Bagaimana………?”.

“Ok! Kalau kamu bisa, dicoba saja. Nanti 4 hari lagi kita meeting dan kita tentukan mana yang mau ditampilkan photo-photo untuk bulan ini dan bulan depan”, jawab dia sambil melihat-lihat lagi photo-photoku.

Tak bisa kupungkiri lagi. Aku telah jatuh cinta pada dia! Aduuuuh…. ! Bagaimana ini? Ini tak boleh terjadi, apa kata keluargaku nanti, apa kata Anjani kekasihku. Aku sudah berjanji sehidup semati dengannya, dan Anjani sudah begitu setia dan mengerti keadaanku selama aku dalam perawatan di rumah sakit. Aku mencintai dia, sangat mencintai Anjani. Tapi kenapa aku juga merasakan perasaan yang sama pada dia? Pada atasanku sendiri?

Jangan-jangan ada yang salah dengan jantung dan mataku, ya pasti ada yang nggak beres dengan kedua organ tubuh ku ini. Aku harus mencari tahu. Aku sudah tidak tahan lagi!

*****

“Maaf, sudah menjadi peraturan di rumah sakit ini dan ini kode etik kedokteran”, dokter Alex mengatakan sambil menatap heran atas penjelasan dan permintaanku.

“Mereka yang mendonorkan organ tubuh keluarganya yang sudah meninggal, juga tidak boleh tahu siapa yang menjadi penerima donor. Jadi saya pun tidak boleh memberitahukan kepada anda dari mana jantung dan kornea mata anda. Lagi pula saya periksa tidak ada yang salah pada diri anda, tampaknya kedua organ tubuh itu cocok sekali pada tubuh anda. Bersyukurlah anda, karena jarang sekali ada pasien yang bisa menerima 2 cangkokan organ tubuh”, dokter itu menegaskan kembali.

Bersyukur! Bersyukur lagi….. selalu kata itu yang mereka ucapkan untuk meyakinkan aku.

*****

“Ada apa dengan pasien itu Lex? Kenapa dia begitu ngotot sekali ingin tahu siapa yang mendonor jantung dan kornea matanya”, tanya dokter Ridwan sambil lalu, ketika sudah tidak ada pasien lagi.

“Entahlah, saya juga jadi ragu dengan ceritanya. Tapi apa iya sampai sebegitu hebat efek samping dari cangkok kedua organ tubuh wanita ke dalam tubuh pria? Kornea mata dan jantung wanita itu ada pada tubuh pasien pria tadi dan katanya lagi, ia merasakan perubahan yang aneh pada dirinya setelah menerima cangkokan tsb. Setiap kali dia memandang atasannya, dia merasakan jantungnya berdebar kencang dan dia seperti tak bisa mengalihkan matanya setiap kali atasannya lewat di depan ruangannya. Dia selalu mengawasi dan memperhatikan gerak gerik atasannya dari kejauhan. Seperti tingkah laku orang yang sedang jatuh cinta. Ya dia telah jatuh cinta pada atasannya sendiri”, cerita dokter Alex  sambil menatap  bingung pada dokter Ridwan.

“Lantas apanya yang salah kalau dia jatuh cinta dengan atasannya?”, tanya dokter Ridwan.

“Salahnya, karena dia mencintai pria! Atasannya itu seorang pria! Sedangkan dia ngotot kalau perilaku sexualnya dulu normal, bukan bisexual! Dia penyuka wanita saja! Dan dia berencana menikah dengan kekasihnya setelah operasinya berhasil. Padahal kekasihnya yang selama ini menyemangati hidupnya, mencari donor kemana-mana. Jadi dia merasa harus membereskan masalah ini sebelum menikah!”, jelas dokter Alex sambil menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi.

“Dokter tahu siapa atasannya?”, tanyanya dokter Ridwan, rupanya dia sudah tidak tahu lagi apa yang harus ditanya, sehingga keluar pertanyaan di luar konteks pembicaraan.

“Krishna Suardhika, photographer terkenal yang punya majalah photography”, jawab dokter itu.

*****

Apakah ini Krishna Suardhika yang sama? Dokter Ridwan termenung-menung, teringat beberapa hari yang lalu, ada kerabat dari pasiennya yang sudah meninggal, menanyakan apakah dia boleh tahu siapa penerima donor kornea mata dan jantung dari tunangannya?

Karena dia merasakan kalau ada yang selalu memperhatikannya setiap saat, lebih tepatnya kalau dia berada di kantor. Bahkan dia bisa merasakan debar jantung yang sama seperti beberapa waktu yang lalu pada saat dia dekat dengan tunangannya. Dia juga bisa merasakan seakan-akan tunangannya berada tidak jauh dari dia…..

Apakah Krishna tidak menyadari kalau kornea mata dan jantung tunangannya ada pada anak buahnya? Apakah perasaan seorang laki-laki tidak terlalu peka untuk menyadari hal itu? Hmmm….. biar waktu saja yang menjawab semua ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s