Jatuh Cinta Pada Orang yang Salah

Standar

Tulisan sebelumnya https://magentalight.wordpress.com/2011/08/05/jatuh-cinta-lagi/

man loves a man

Diam-diam aku perhatikan gerak-geriknya, bagaimana dia memegang mug kopi, meniup perlahan-lahan sebelum menempelkan bibirnya di pinggir mug putih.

Sungguh suatu pemandangan yang mengasyikan. Entah sudah berapa lama aku melakukan kegiatan ini pada jam-jam yang sama….. aku tahu ….tidak boleh aku lakukan di jam-jam kerja seperti ini. Ruang kerjaku hanya dibatasi dengan dinding kaca, ruangan dia pun juga hanya dibatasi dengan dinding kaca, walaupun antara ruangan aku dan dia masih ada satu ruangan lain yang membatasi.

Syukurlah ada ruang lain ditengah-tengahnya, kalau tidak bisa gila aku setiap hari memandang gerak-geriknya selama jam kerja, kapan kerjaan bisa selesai? Belum lagi debaran jantung yang lebih cepat pada saat aku memandang dia, dan lebih cepat lagi kalau dia membalas pandanganku sambil tersenyum. Bisa-bisanya aku langsung panik mengontrol gerakan anggota tubuhku, antara membalas senyumnya, langsung menunduk pura-pura sibuk, atau tanganku langsung mengangkat telpon dengan gaya seakan-akan baru ingat harus menelpon seseorang. Hmmm…menggelikan sih, tapi selalu saja terjadi, berulang-ulang……

“Lama-lama dia tahu loh…kalau loe suka liatin terus gerak-geriknya,” Dany tiba-tiba nyelonong masuk sambil menyerahkan daftar model yang harus aku garap.

“Apaan sih maksud loe? Liatin sapa? Orang lagi sibuk telpon kok!” kataku sambil melotot, “Lain kali ketok pintu ya, jangan main masuk aja, yang sopan!”

“Hahahahaha…..sejak kapan nih….pake ketok pintu, lagian kalau diketok, ntar loe malah jantungan lagi, kan baru operasi jantung, jadi gak boleh sering-sering kaget!” sambung Dany sambil senyum-senyum sendiri.

Tanpa sadar aku mengelus-ngelus dadaku, terasa jahitan di dadaku. Aku harus periksa jantungku lagi, bosan rasanya menunggu di ruang praktek dokter Alex, suasananya dingin, sendirian … belum lagi suster Rina kadang suka jutek.

“Jadi loe hari ini cek ke dokter?” tanya Dany sambil menatap dalam-dalam ke arahku.

“Kok loe tahu? Siapa yang kasih tahu sih….lagian loe gaya banget pake sok perhatian segala, pasti deh ada maunya? Supaya bisa pulang cepat ya?”

“Hanya sekedar mengingatkan, tunangan loe tadi telpon ke extension gue, minta supaya gue jangan lupa ingatin loe ke dokter”.

Tunangan….? Tanpa kusadari badanku gemetar. Aku diingatkan lagi oleh satu hal, aku sudah bertunangan!

“Hei! Loe gak kenapa-napa? Kok mukanya pucat gitu?” Dany cepat-cepat menghampiriku.

“Ada apa Dan? Loh kenapa dia? Dan, bantu saya ambilkan air putih, cepat!” tiba-tiba terdengar suara yang selama ini menganggu pikiranku.

Aku tidak bisa begini terus, tahu-tahu dia sudah menyodorkan gelas ke tanganku, tapi begitu dia melihat aku sepertinya lemah tak berdaya, dia membantu aku untuk memegang gelas dan mendekatkan gelas ke mulutku. Panik melihat dia membantuku, terburu-buru kuteguk air putih itu akibatnya malah aku tersedak dan batuk-batuk.

“Pelan-pelan minumnya”, sambil menepuk-nepuk pelan bahuku, “Bagaimana sudah baikan? Kamu kurang sehat? Mau ijin pulang, jangan terlalu capek lah, waktunya masih panjang kok, lagipula buat cetakan berikut, foto-foto kamu sudah ok”, sambung dia sambil memperhatikan aku yang masih menggenggam erat-erat gelas minumku.

Ya Tuhan, kuatkanlah daku, tidak bisa terus-terusan begini, bisa kacau hidupku nanti. Tapi bagaimana ya caranya, siapa orang yang bisa mengerti semua ini? Tunanganku? Rasanya tidak mungkin, karena bisa menyakiti hatinya.

Apa sebaiknya aku pergi ke psikiater? Tapi apa yang mau dikeluhkan? Mendadak suka sama bos sendiri, kok kayaknya aneh aja, bisa-bisa dikira abnormal, apakah benar aku abnormal?

“Mau gue temenin loe ke dokter? tiba-tiba Danny menepuk pelan tanganku, tanpa kusadari mataku mencari-cari sosok lain yang tadi hadir di ruanganku.

“Sudah keluar tadi, habis loe bengong aja sih, dia suruh gue temenin loe pulang kalau mau pulang sekarang, gimana? Mumpung sekalian gue temenin loe ke dokter, jaga-jaga siapa tahu loe bengong lagi atau mendadak gemetar gak jelas kayak tadi” cerocos Danny sambil membereskan berkas-berkas di mejaku.

Sudah jam 15.45, sebaiknya siap-siap ke dokter, mumpung Dany mau menemani, lagipula dia juga bisa nyetir mobil, jadi aku bisa rebahan sebentar di mobil selama perjalanan. Siapa ya psikiater yang bagus? Apa tanya sama Dokter Alex, siapa tahu dia punya rekanan yang oke.

“Melamun lagi, sekarang kelihatannya loe hobby banget melamun. Suka memperhatikan si bos diam-diam, pernah gue hitungin loe berapa lama lihatin si bos, paling lama setengah jam” sambil nyetir Dany nyerocos terus.

Setengah jam melamunkan si bos, sampai segitu parahkah aku? Aku pejamkan mataku supaya ocehan Dany berhenti kalau dia lihat aku pura-pura tidur. Kembali pikiranku melayang, pagi hari memperhatikan si bos masuk ruangannya, kebiasaan kecil yang dia lakukan sebelum memulai kerja sangat menarik perhatianku, mulai dari menaruh telpon genggamnya di sebelah kiri, mengeluarkan notebooknya dari tasnya, dan memeriksa berkas yang sudah diletakkan oleh sekretarisnya. Bahkan sampai kebiasaan dia meniup-niup kopinya menjelang sore waktu coffee time, kuperhatikan setiap hari tanpa bosan. Rupanya kebiasaanku ini menarik perhatian Dany tanpa kusadari, apakah terlalu jelas aku memperhatikan si bos sampai-sampai aku juga diperhatikan oleh Dany?

“Bangun! Sudah sampai, masa mau tidur terus? Mimpi apa sih, kok senyum-senyum sendiri gitu?” tangan Dany menguncang-guncang bahuku.

“Ngawur lu Dan, senyum-senyum apaan? Loe nyetir apa liatin gue tidur sih?” aku pura-pura menggeliatkan badanku, lalu cepat-cepat membuka pintu dan menuju ke bagian pendaftaran. Kutinggalkan Dany yang terbengong-bengong melihat kesigapanku keluar dari mobil.

“Selamat sore Suster Rina, dapat antrian no berapa nih?” sapaku sok akrab pada suster Rina.

“No 4, masih ada 2 pasien, satu lagi di dalam, dan satu lagi masih menunggu, gak sampai sejam lah nunggunya,” balasnya. Tumben ramah, biasanya suka jutek. Untunglah pasiennya belum banyak, sejam lumayan lah gak terlalu lama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s