Mungkinkah Yogyakarta Menjadi Kota Sepeda (Lagi)?

Standar

Sudah dimuat di Kompasiana 18 Agustus 2011

Membaca berita di harianjogja.com 16 Agustus 2011, mengenai mahasiswa baru angkatan 2011 tidak boleh membawa motor atau mobil ke dalam lingkungan kampus Universitas Gajah Mada (UGM) menuai kritik dari perwakilan mahasiswanya sendiri,  adalah sangat memprihatinkan.

Pihak Badan Executive Mahasiswa Keluarga Mahasiswa mengatakan kampus belum siap, karena UGM hanya menyediakan 200an sepeda (pinjam gratis) untuk mahasiswa baru  tahun 2011 sebanyak 9000an. Selain itu juga belum adanya koordinasi dengan Organisasi Angkutan Darat untuk menghindari kesemerawutan lalu lintas.

Sepeda kampus tersebut selain melayani mahasiswa juga untuk dosen, pegawai dan tamu yang berkunjung ke kampus biru, jadi secara teknis akan melayani dari “stasiun” satu ke “stasiun” yang lain. Letak “stasiun” akan ditempatkan dalam posisi yang strategis seperti kawasan lembah UGM, dekat shelter  Tranjogja, perpustakaan, gelanggang mahasiswa, cluster tehnik, dan rencananya juga di asrama Bulaksumur, GMC Health Center. Estimasinya satu sepeda bisa dipakai untuk 15 orang dalam sehari.

sepedaku.com

Kebijakan ini sebetulnya baik, tapi dikatakan kurang sosialisasi, dan sebaiknya bertahap dan tidak langsung diterapkan, dimana penerapannya juga dengan ujicoba dulu.

Saya teringat ketika jaman baheula, kota Yogya selain dikenal sebagai kota pelajar juga dikenal sebagai kota sepeda, karena 25-30 tahun yang lalu kalau ke Yogya kita pasti menemukan serombongan warga Yogya yang bersepeda dimana-mana. Sekarang pemandangan tersebut sudah berganti dengan rombongan sepeda motor.

Di Yogya bahkan disediakan rambu-rambu untuk menunjukan jalur alternatif dengan sepeda. Jalur dan parkir sepeda sudah ada, walaupun sekarang parkir khusus sepeda dipakai oleh sepeda motor, dan jalur khususnya dipakai untuk parkir becak.

Sebaliknya di kota lain misal Jakarta, masyarakat Bike for Work “merengek-rengek” minta disediakan jalur sepeda sendiri untuk jalan-jalan tertentu. Pastinya permintaan tersebut membuat pusing Pemkot DKI, karena jalur mana lagi yang mau diambil untuk dikasih pembatas beton. Saran saya sebaiknya jalur mobil saja yang diambil atau yang naik sepeda sebaiknya berada di jalur cepat bersamaan dengan mobil.

Komunitas sepeda yang selalu memakai slogan dan menempelkan stiker “Bike for Work” adalah  warga Jakarta yang naik mobil merasa jenuh dengan kemacetan setiap harinya dan tidak punya waktu untuk berolahraga. Jadi alternatifnya adalah bersepeda gerak di jalan raya daripada bersepeda statis di rumah, sehingga pilihan warga Jakarta yang naik mobil untuk terhindar dari macet adalah naik Trans Jakarta atau naik sepeda.

Kembali ke pernyataan yang mengatakan Kampus UGM belum siap untuk memberlakukan sepeda di lingkungan kampusnya adalah aneh saja menurut saya. Bukankah dulu warga Yogya asli maupun pendatang sudah bersepeda kemana-mana? Masa hanya bersepeda di lingkungan kampus saja harus ujicoba, minta bertahap lagi. Lagipula yang diminta bersepeda itu adalah mahasiswa baru angkatan tahun 2011, bukan seluruh mahasiswa UGM! Apakah bukannya bertahap itu namanya kalau hanya mahasiwa baru saja? Kalau langsung diberlakukan seluruh mahasiswa UGM itu namanya pemaksaan.

Selain itu dalam waktu dekat UGM juga bekerja sama dengan Pemprov Yogyakarta untuk merealisasikan penggunaan kartu mahasiswa sebagai tiket bus Transjogja, rencananya pada bulan September 2011. Secara simbolis Wakil Menteri Perhubungan dalam peresmian nanti akan naik bus Transjogja dari bandara menuju UGM, dilanjutkan dengan naik sepeda biru keliling beberapa ruas jalan di kampus UGM. Shelter Transjogja yang dekat dengan UGM ada beberapa di antaranya Shelter Panti Rapih, Kopma/Pertanian, RS Sardjito. Bahkan untuk ke depannya diharapkan Universitas lain mengikuti UGM dalam kampanye menggunakan kendaraan umum, bebas macet dan menciptakan lingkungan yang bebas polusi.

Pertanyaannya sekarang, sebetulnya siapa yang belum siap? Masyarakat Yogya pada umumnya dan mahasiswa UGM khususnya, atau kampus UGM berserta Pemprov Yogya?

Sumber tulisan: suaramerdeka.com; gudeg.net.id; harianjogja.com; ugm.ac.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s