Orang Tua Mengatur Kehidupan Pribadi Anaknya?

Standar

Dimuat di Kompasiana tanggal 10 July 2011

Belum lama ini ada berita bahwa Irfan Bachdim dan Jennifer Kurniawan sudah menikah di Eropah (entah di Jerman atau di Belanda) pada 8 July 2011, kabarnya hanya keluarga dekat yang hadir dalam upacara pernikahan mereka. Gossip bahwa keluarga Irfan Bachdim tidak setuju rupanya dibantah oleh orang tua dari Irfan sendiri Noval dan Hester Bachdim.

Irfan dan Jennifer (antarafoto.com)

Noval Bachdim, menilai bahwa pilihan mencari pasangan atau teman hidup sepenuhnya di tangan sang anak sendiri. Orangtua, bagi Noval, tidak bisa melarang atau memaksakan kehendak. Itu pula yang diterapkan pada pernikahan Irfan ini (sumber: Kompas.com).

Bagaimana dengan “keluarga besar” Bachdim, yang diwakili oleh Helmi Bachdim (paman tertua Irfan, kakak kandung Noval Bachdim), yang mengatakan tidak setuju dengan hubungan Irfan-Jennifer, salah satunya, adalah perbedaan agama, salah duanya, Irfan belum memperkenalkan Jennifer pada keluarga besar Bachdim dan salah tiganya, Irfan masih terlalu muda untuk menikah, karirnya di sepak bola masih panjang, jadi nanti-nanti saja, kenapa harus sekarang? Jadi kelihatannya ada tiga kesalahan (?) kalau Irfan menikah dengan Jennifer. Tapi bagaimana menurut orang tua kandung Irfan, Noval dan Hester Bachdim? Ternyata mereka setuju saja dengan pilihan anaknya karena usia Irfan sudah dianggap dewasa.

Sama halnya dengan pakai tato di tubuh pun, Noval menyatakan tidak punya kuasa untuk melarang. “Sebagai orangtua, kami memberi bimbingan dan bekal ilmu agama sampai dia mencapai usia 18 tahun, lepas itu dia sendiri yang harus bertanggung jawab,” ujar Noval Bachdim kepada Radio Nederland (sumber: Kompas.com).

Mungkin pamannya Irfan lupa kalau Irfan dididik di luar negri (Belanda) dan bukan di Indonesia, di mana kalau di Indonesia “keluarga besar” ikut campur tangan dalam segala hal, apalagi perkawinan. Bisa kita lihat pernyataan dari ayah kandung Irfan yang mengatakan “kami memberi bimbingan dan bekal ilmu agama sampai dia mencapai usia 18 tahun, lepas dari itu dia sendiri yang bertanggung jawab”, itu adalah pernyataan yang tidak aneh bagi orang tua di negara Barat, tapi sangat-sangat aneh bagi telinga orang Indonesia.

Kapan seseorang dianggap dewasa?

Arti kata dewasa dari Kamus Bahasa Indonesia:
1. sampai umur, akil baliq (bukan kanak-kanak atau remaja lagi)
2. matang (tentang pikiran, pandangan, dll)
Masa dewasa : masa seseorang menginjak usia kawin dan karena itu dianggap sudah dapat berdiri sendiri dalam menanggung hidupnya, lepas dari asuhan dan bantuan orang tua.

Kalau di negara Barat seperti Australia, Amerika, Eropah, mungkin beberapa negara tertentu di Asia, pada saat anak masuk Universitas atau pada saat anak berumur 18 tahun, kebanyakan orang tua sudah lepas atau mengurangi keterlibatannya dalam kehidupan pribadi anaknya. Ada juga yang masih mengikuti sampai lulus Universitas, setelah itu lepas sama sekali. Beberapa masih terus terlibat sampai ke perkawinan anaknya, terutama kalau mereka berasal dari keluarga yang kaya, karena untuk menjaga agar harta kekayaan keluarga tidak jatuh ke tangan menantu yang tidak tepat.

Bagaimana di Indonesia? Mungkin 90% akan ikut terlibat terus dalam menentukan kehidupan anak-anak mereka sampai mereka (para orang tua) meninggalkan dunia. Sedikit sekali yang tidak ikut campur tangan, apalagi dalam hal mencari jodoh, memberi nama cucu, menanti kelahiran cucu terutama cucu laki-laki sebagai penerus keluarga. Bahkan di beberapa suku di Indonesia, orang tua kandung berkurang haknya ketika anaknya mau menikah, dan yang menentukan segala-galanya termasuk oke tidaknya calon menantu adalah saudara-saudara kandung dari orang tua mereka.

Dalam beberapa hal, kata dewasa di Indonesia memiliki beberapa arti. Secara hukum umur 18 tahun sudah dianggap dewasa, artinya pasti sudah punya KTP, sudah bisa ikut pemilu tingkat nasional sampai daerah, sudah bisa menikah secara hukum, sudah bisa menandatangani dokumen penting (di Indonesia umur 21 tahun), bahkan sudah bisa menerima sejumlah uang sebagai ahli waris dari suatu asuransi.

Secara logika kalau si anak pada usia 25 tahun mau menikah, dia sudah bisa menentukan sendiri calon pasangannya, karena sudah di atas usia 18 tahun. Bahkan ada yang bilang kalau anak perempuan sudah menstruasi walaupun umurnya belum mencapai 18 tahun, sudah “dianggap” dewasa dan sudah “bisa” dinikahi.

Kenyataannya sangat jauh dari teori. Bahkan kata dewasa bisa berlainan arti dalam beberapa kalimat, misalnya: “Kamu masih kecil belum dewasa untuk memilih jodoh, umur kamu baru 22 tahun”, di lain waktu, “Kamu kan sudah dewasa, masa tidak bisa berpikir kalau hidup mau sukses butuh gelar Sarjana kalau perlu sampai S2″.

Jadi kapan donk orang tua (di Indonesia) berhenti ikut campur tangan di kehidupan anaknya dan menganggap si anak sudah dewasa? Apakah pada saat usia 18 tahun? Pada saat anak sudah menikah? Pada saat si anak sudah punya anak sendiri, sehingga si anak tersebut sudah bisa disebut orang tua juga? Atau malahan tidak pernah berhenti, baru berhenti kalau napas mereka sudah berhenti?

sumber: kompas.com, detik.com, vivanews.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s