Kesetiaan? Tirulah OwaJawa Daripada Kera Ekor Panjang!

Standar

Owa Jawa adalah jenis primata dari suku hylobatidae dan menyebar secara terbatas di Jawa bagian Barat dengan tingkat populasi 1000-2000 ekor, hal inilah menjadikan kera species owa yang paling langka di dunia.

owa jawa (okezone.com)

Owa Jawa merupakan pasangan setia, monogami dengan jumlah anak tidak lebih dari 2 setiap keluarga inti. Apabila salah satu pasangan mati, tidak serta merta langsung mencari pengganti, selektif dalam memilih pasangan hidup, pantang berpindah ke lain hati dan setia sampai mati. Owa betina melahirkan setiap 3 tahun sekali, disusui sampai berusia 18 bulan. Si anak akan terus bersama keluarganya sampai usia dewasa yaitu 8 tahun, setelah itu owa muda akan berpisah mencari pasangannya untuk membentuk keluarga baru.

Bila ditinjau dari segi kemiripan dengan anatomi manusia, owa jawa atau javan gibbon masuk urutan kedua setelah orang utan, gorila dan simpanse, termasuk primata yang cukup pintar. Mirip dengan manusia, bahkan owa jawa mempunyai tingkat stress yang tinggi.

Banyak orang yang memburu anak-anak owa jawa sebagai binatang peliharaan, bahkan ada yang memelihara untuk pancingan punya anak. Masyarakat banyak yang tidak tahu dengan memburu anak-anak owa jawa, biasanya dengan menembak owa betina yang sedang menggendong anaknya, sama saja dengan membunuh seluruh anggota keluarga inti. Owa jantan akan stress dan bisa menyebabkan kematian setelah ditinggal owa betina.

Java Gibbon Centre, didirikan tahun 2003, di area Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, Jawa Barat, berusaha menyelamatkan kepunahan owa jawa dengan menjodohkan owa jantan dan betina pada musim kawin dimulai setiap Mei sampai Agustus. Layaknya seperti manusia, walaupun sudah dikenalkan, kalau tidak ada “getar-getar cinta” perjodohan tidak akan berhasil bahkan kalau dipaksa malah bisa mengakibatkan perkelahian, dimana owa jantan menyerang si betina. Perjodohan dengan bantuan “mak comblang” adalah penting, mengingat owa jawa tidak bisa hidup sendirian dalam keluarga di habitat asli.

Bandingkan dengan kera ekor panjang (macaca fascicularis), pada musim kawin pejantan kawin dengan beberapa betina, begitu pula sebaliknya yang betina kawin dengan beberapa pejantan. Masalah kesetiaan jangan diharap, kehidupan poligami dan poliandri berlaku di kelompok mereka, dimana dalam satu kelompok ada satu pejantan yang dominan.

kera ekor panjang (arsipberita.com)

Bahkan kelakuan pejantan di musim kawin (birahi) suka mengintip orang mandi di beberapa sumber air. Satwa ini termasuk cerdik, bisa membuka genteng rumah warga untuk mengintip orang mandi dan betah pula.

Kelakuan negatif lain dari kera ini adalah pedofilia, pejantan suka mengendong bayi kera, seharusnya kewajiban si betina. Si bayi yang tidak mengerti, mengisap alat kelamin si pejantan karena dikira puting susu induk betina, bagi si penjantan hal tersebut merupakan kenikmatan sendiri.

Disamping itu pula karena kecerdikannya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang negatif, seperti dilatih untuk menjadi pencuri, selain itu juga dipelihara dan diperkerjakan sebagai penghibur yang kita kenal dengan topeng monyet. Juga dimanfaatkan untuk penelitian medis, biomedik dan psikologis, termasuk salah satu binatang percobaan.

Ada baiknya manusia di dunia meniru kesetiaan dari owa jawa, setia sampai mati, dan tidak berpaling ke lain hati, bahkan setelah ditinggal pasangannya masih tetap setia, asal jangan ikut mati karena stress. Sayangnya manusia yang katanya punya ahlak yang lebih baik dari mahluk binatang bahkan kera sekalipun, kelakuannya kadang menyerupai kera ekor panjang.

Mempunyai pasangan lebih dari satu dengan dalih agama, sama saja dengan kera ekor panjang, yang mempunyai tujuan untuk memperlihatkan kekuasaan terhadap pasangannya.

Di Amerika saja ada kelompok-kelompok tertentu yang dengan dalih agama, memisahkan diri dari masyarakat umum, mendirikan rumah ibadah sendiri, dimana si pemimpin hidup bagai seorang nabi dan mempunyai banyak istri bahkan menikahi perempuan yang masih berumur belia.

Contoh di Amerika, Rulon Jeffs mempunyai sekitar 20 istri dan 60 anak, meninggal tahun 2002, anaknya Warren Jeffs mengikuti tradisi ayahnya dan “mewarisi” istri-istri ayahnya kecuali yang menjadi ibunya, kabar terakhir dia memiliki  80 istri, sebanyak 24 orang dibawah umur 17 tahun. Untuk semua ini Warren Jeffs dituntut di pengadilan atas pelecehan sexual, perkosaan, penganiayaan terhadap anak umur 12 dan 15 tahun (yang diakui sebagai istrinya), ada kemungkinan di penjara seumur hidup (total 119 tahun). Dia merasa lebih baik di penjara daripada menentang ajaran agamanya, karena semua perbuatannya adalah sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.

Joe Jessup 88 tahun dengan 5 istri, 46 anak dan 269 cucu

Memang ada kalanya kelakuan manusia suka meniru atau lebih rendah dari kelakuan kera yang katanya  tidak punya ahlak dan iman.

Sumber tulisan :

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/05/24/LIN/mbm.20100524.LIN133595.id.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Owa_jawa

http://arirakatama.multiply.com/journal/item/4

http://id.merbabu.com/fauna/monyet_ekor_panjang.html

http://www.huffingtonpost.com/2011/08/05/warren-jeffs-polygamist-leader-records_n_919170.html

http://www.washingtonpost.com/blogs/under-god/post/warren-jeffs-sister-wives-and-american-polygamy/2011/08/10/gIQAxtn16I_blog.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s