Masih Adakah Uang Koin Rp 10, Rp 50 ?

Standar

Kemana larinya uang kembalian belanja kita sebesar Rp. 10,00  (sepuluh Rupiah) sampai Rp. 150,00 (seratus lima puluh Rupiah) atau lebih?

Uang Koin Rp. 50

Pengalaman belanja di supermarket atau di minimarket atau di toko kelontong yang mempunyai harga jual berakhiran dengan Rp. 50,00 (lima puluh Rupiah) atau Rp. 90,00 (sembilan puluh Rupiah), pastinya kita tidak akan menerima kembalian Rp. 10,00 atau Rp. 50,00.

Misalnya kita harus terima kembalian Rp. 250,00 yang kita terima pastinya Rp. 200,00 apalagi yang kembaliannya  Rp. 210,00. Dulu waktu masih tinggal di Jakarta (sekarang saya tidak tahu lagi) kadang uang kembalian Rp. 100,00 sampai Rp. 200,00 bisa dianggap hilang atau kita tidak akan menerimanya, contohnya kembalian belanja Rp. 600,00 kita terima Rp. 500,00 dengan alasan tidak ada uang koin Rp. 100,00. Mengganti Rp. 100,00 dengan permen sudah pasti mengundang sejuta protes dari pembeli/pelanggan, karena ada kejadian pelanggan yang membayar Rp. 100,00 sampai Rp. 400,00 dengan permen yang diterimanya dari supermarket langganan dan supermarket tersebut menolak dengan alasan permen bukan alat bayar, padahal mereka dulu mengganti uang koin Rp. 100,00 dengan satu permen. Setelah tinggal di Jogja, uang koin Rp. 100,00 dan Rp. 200,00 masih banyak beredar.

Lantas kemana larinya sisa kembalian uang belanja kita?

Pada waktu negeri tercinta kita banyak dilanda musibah bencana alam, selalu ada tawaran yang susah untuk ditolak (karena malu didengar sama orang yang antri di belakang kalau kita tolak) untuk menyumbangkan Rp. 100,00 sampai Rp. 400,00 ke dompet bencana. Jadinya kembalian sebesar Rp. 12.250,00 akhirnya hanya kita terima sebesar Rp.12.000,00 karena sudah nyumbang terpaksa Rp. 250,00 dengan tanda terima di bon pembelian “sumbangan ke dompet bencana daerah XXX Rp. 250,00″

Uang Koin Rp. 10

Apakah lega hati kita karena uangnya disumbangkan ke tempat-tempat yang membutuhkan? Ikhlas? Mau tidak mau harus lega dan ikhlas, kalau tidak pun pihak supermarket akan bilang “Maaf, kami tidak disediakan uang kecil/koin” atau mau marah-marah meributkan uang kecil sebesar Rp. 200,00 (dengan resiko jadi tontonan pembeli yang antri di belakang kita) yang tidak kita terima, padahal kita menghamburkan ribuan rupiah di tempat lain?

Lain lagi persoalannya kalau supermarket tidak ada kerjasama atau program nyumbang sana dan sini, jadi uang sisa kembaliannya kemana? Pengalaman saya belanja di supermarket atau minimarket ketika tahu bahwa akan ada kembalian dengan buntut Rp. 50,00 saya harus merelakan kehilangan Rp 50,00 berkali-kali.

Ada satu kejadian yang agak mengesalkan, mungkin karena sudah berkali-kali merelakan kehilangan Rp.10,00 sampai Rp.50,00 di supermarket yang sama, suatu hari saya seharusnya menerima kembalian dari belanja sebesar Rp. 29.960,00 (belanja Rp. 20.040,00 dan saya kasih uang Rp.50.000,00), kasir menanyakan apakah saya punya uang Rp.100,00 lalu saya jawab tidak ada. Saya berharap kasir memberikan kembalian sebesar Rp.30.000,00.

Ternyata tidak!! Saya hanya menerima kembalian sebesar Rp. 29.900,00. Saya langsung protes kenapa tidak dibulatkan keatas menjadi Rp.30.000,00 karena di atas kelipatan Rp.50,00. Rupanya kasirnya juga tidak mau disalahkan oleh manajemen jadilah keukeuh jumeukeuh tidak mau memberikan kembalian sesuai permintaan saya. Lalu saya tanya, kalau saya kasih Rp.100,00 berapa kembaliannya? Kasir menjawab Rp.30.000,00. Jadi tetep kasir ada kelebihan uang Rp.60,00. Iseng saya tanya lagi kenapa tidak dimasukkan ke program sumbang menyumbang, dijawab dengan santai kebetulan sedang tidak ada programnya sekarang. Waduh……

Saya pernah kerja di divisi marketing, memang membuat harga adalah salah satu strategi maketing. Lebih baik kita mencantumkan harga Rp. 99.900,00 dari pada Rp 100.000,00 atau lebih gila lagi Rp. 99.990,00. Karena membaca angka bulat 100.000 memberi kesan  mahal, sedangkan membaca angka 99.900 membuat barang kelihatannya murah, dibawah seratus ribu Rupiah.

Mungkin solusi agar tidak rugi kecil yang lama-lama bikin kesal, bayarlah dengan kartu debet, karena yang membuat ulah dengan harga seperti itu adalah supermarket atau minimarket yang pastinya menerima pembayaran dengan kartu debet, sedangkan kalau di pasar tradisional atau pasar basah dijamin harganya bulat-bulat.

Dimuat di Kompasiana 23 Juni 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s