Ketika Dihadapkan Pada Pilihan…….

Standar

blogspot.comDulu waktu saya masih di SMA, ada seminar 2 hari yang ditujukan untuk anak-anak kelas 3. Biasanya seminar itu berisi salah satunya berisi sex education. Saya tidak mau membahas masalah sex-nya, tapi saya ingat pada waktu itu selain membahas masalah sex juga membahas tentang pilihan sesudah menikah.

Ditanyakan kepada murid-murid kelas 3, pertanyaan pertama, apabila sudah menikah siapa yang harus didahulukan orang tua atau pasangan kita? Karena yang ditanya rata-rata berumur 17 tahun, otomatis jawaban yang keluar adalah orang tua.

Kemudian pertanyaan kedua, terapung-apung di tengah laut, siapa yang ditolong pertama kali, orang tua (bisa ayah atau ibu) atau pasangan kita? Dijawab lagi dengan serempak dan nyaris semuanya memilih orang tua. Diingatkan oleh Psikolog, tidak bisa menyelamatkan dua orang harus pilih salah satu ibu atau suami untuk murid perempuan, dan ibu atau istri untuk murid laki-laki. Murid perempuan sebagian besar nyaris semua menjawab ibu, tapi pada murid laki-laki ada sebagian yang menjawab ibu, sebagian lagi menjawab istri. Bahkan ketika ibu diganti dengan ayah, hasilnya tidak beda jauh, sebagian besar memilih ayah.

Beberapa tahun kemudian, pertanyaan tersebut muncul lagi pada saat ikut seminar persiapan menuju rumah tangga yang sehat, siapakah yang harus didahulukan pasangan hidup atau orang tua? Beberapa peserta ada yang mengatakan orang tua sebagian lagi ada yang mengatakan pasangan hidup.

Katanya pilihan yang benar dan sebaiknya adalah apabila sudah menikah pilihan pertama jatuh pada pasangan kita dan pilihan kedua jatuh ke orang tua. Bagi yang belum menikah pilihan pertama adalah orang tua.

Belum lama ini saya bertemu dengan seorang teman yang sudah lama tinggal di luar negri, tapi masih WNI. Dia mengajukan pertanyaan kepada saya, ada 2 orang yang sama-sama butuh pertolongan kamu, siapa yang kamu pilih kalau kamu tinggal di negara X, sedangkan kamu hanya bisa menolong seseorang saja (orang yang ditolong juga tinggal di negara X), orang yang sebangsa dengan kamu (beda agama), atau orang yang seagama (beda bangsa)?

Saya terus terang bingung, mau menolong yang seagama dengan saya tapi dia tidak satu bahasa, tidak satu bangsa dan tidak satu tanah air. Sedangkan kalau menolong yang satu lagi sama-sama bahasanya, sama-sama bangsanya, sama-sama pasportnya, tapi tidak sama alias beda rumah ibadahnya.

Hmmm….. akhirnya aku pilih sesuai dengan hati nuraniku, apapun pilihanku, aku yakin ajaran agamaku dan kebangsaanku tidak perlu dipertanyakan lagi.

dimuat juga di Kompasiana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s