Serunya Ngobrol dalam Bahasa Gado-Gado

Standar

bahasa gado-gado

To whom sing berkepentingan.

Since dua-tiga wulan anyar-anyar iki, lagi trend people nulis pake boso campur2. If they finish one sentence nganggo English and then pindah using boso Indo masih enak diwocone. Tapi yang sering is durung mari sak kalimat they already change using english, javanese or even chinese, wo bu ce tao when these kind of trend become so popular nang Indo. Wo also don’t no who sing create trend kayak gini, mungkin jejaring sosial such as twitter, pesbuk, ce me yang? Apa Ni sudah headache read tulisan ini? Wo te sirah sdh mumet. Nek pusing take aspirin lah……

Belum lama ini saya dapat kiriman lewat hape tulisan yang di atas. Waktu membacanya saya jadi teringat minggu lalu saya pergi ke Semarang, menginap di rumah teman saya dimana keluarga di sana menggunakan tiga bahasa dalam berbicara termasuk dengan saya.

Bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia, bahasa Jawa dan bahasa Cina dialek Hokkian. Otomatis percakapan mereka hanya 50% yang saya tahu dan pahami. Rupanya mereka menyadari kalau saya tidak bisa bahasa Cina dan bicara dalam bahasa Jawa, jadi mereka mengurangi berbicara dalam bahasa Cina. Mengurangi bukan tidak sama sekali menggunakan bahasa Cina. Hal ini saya maklumi, mungkin karena setiap hari mereka berbicara dalam tiga bahasa tersebut.

Saya jadi teringat dengan ayah ibu saya yang juga menggunakan dua bahasa dalam berbicara. Kebetulan ayah ibu saya yang sekolah di sekolahan Belanda pada jamannya otomatis berbicara di rumah dengan bahasa Belanda. Kedua kakak saya yang paling tua dan yang kedua juga bisa berbicara dalam bahasa Belanda, bahkan baru sekolah SD kelas 1 mereka baru lancar bahasa Indonesia. Di rumah mereka berbicara dengan orang tua bahasa Belanda, dengan asisten di rumah bahasa Sunda, dan dengan adik-adiknya yang ketiga dan keempat (saya) berbicara dalam bahasa Indonesia.

Heran? Saya juga heran, karena anak ketiga dan keempat tidak bisa lagi berbicara dalam bahasa Belanda, karena orang tua pada waktu itu diminta oleh sekolah tempat kakak saya yang pertama dan kedua untuk berbicara dalam bahasa Indonesia dengan anak-anak yang lain. Ternyata kakak-kakak saya mengalami kesulitan berbicara dalam bahasa Indonesia ketika masuk TK, dan baru lancar pada saat SD.

Mungkin juga pada jaman dulu ada yang menggunakan tiga bahasa sekaligus ketika kumpul-kumpul dulu, belanda-indonesia-sunda atau belanda-indonesia-jawa atau bahasa daerah lain. Saya sendiri dulu masih menggunakan kata-kata dalam bahasa Belanda kalau berbicara dengan orang tua, yang pasti dan selalu adalah ikke atau ik untuk menunjuk ke diri sendiri.

Jaman sekarang ya seperti tulisan yang di atas, menggunakan berbagai bahasa dalam berbicara dengan teman, entah maksudnya untuk pamer menunjukkan bisa bahasa tertentu, atau kebiasaan, atau apa lagi. Tapi kalau di Jakarta atau kota besar lain, yang pasti adalah Inggris-Mandarin-Indonesia adalah bahasa yang “wajib” dikuasai sekarang ini. Bahasa daerah tergantung dari kebiasaan di rumah, hanya saja kecenderungan orang tua jaman sekarang (di kota besar) lebih banyak berbicara dalam bahasa Inggris dengan anak-anaknya dengan tujuan supaya anak-anak mereka tidak gagap lagi kalau mau kuliah di luar negri.

Saya pribadi senang melihat ada orang yang selain bisa (harus) bahasa Indonesia, juga lancar bahasa daerah, dan tidak gagap dalam bahasa Inggris. Hanya saja kita harusnya tahu kapan dan dimana harus berbicara dalam bahasa daerah atau dalam bahasa Inggris, untuk menghindarkan tatapan aneh dari orang lain kalau di tempat umum.

Dimuat di Kompasiana 24 November 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s