Pergantian Tahun versi Kalender Masehi yang Selalu Dicela.

Standar

rediff.com

Setiap akhir tahun kalender Masehi, sebagian orang di dunia bersiap-siap untuk menyambut datangnya tahun baru dengan berbagai cara. Ada yang merayakan dengan pesta pora bersama keluarga atau teman-teman, ada juga yang pergi jalan-jalan membuat macet daerat pusat kota, ada juga yang membunyikan terompet dan membakar petasan sehingga membuat bising orang sekitarnya, atau ada juga yang di rumah saja menggerutu karena bising dan tidak bisa tidur.

Setiap orang punya cara bagaimana menghadapi datangnya tahun baru versi Masehi. Herannya di Indonesia ini setiap perayaan selalu ditanggapi dari sudut pandang agama. Tentu saja akan terjadi perdebatan panjang atau debat kusir yang tiada habis-habisnya yang kadang berakhir dengan penghinaan suatu agama.

Herannya selalu saja agama yang kebetulan mempunyai perayaan hari besarnya berdekatan dengan pergantian tahun versi Masehi yang selalu menjadi sasaran dari kekesalan umat agama lain. Selalu saja ada tuduhan bahwa pesta tahun baru yang bersifat memboroskan uang itu diikuti dengan pesta sex atau pesta ajang melepas keperawanan dan keperjakaan.

Tentu saja tuduhan itu selain menggelikan juga merupakan suatu penghinaan terhadap agama tersebut. Banyak sekali tulisan di media blog yang mengatakan bahwa perayaan tahun baru adalah peristiwa biasa-biasa saja dan tidak ubahnya seperti hari-hari biasa lainnya. Tulisan yang menghujat perayaan tahun baru dengan petasan, hura-hura atau jalan-jalan yang membuat macet, dibalas dengan tulisan bahwa itu adalah peristiwa sekali setahun yang patut dirayakan, belum lagi komentar-komentar yang pro dan kontra terhadap tulisan manapun juga.

Kebisingan semalam rupanya tidak bisa diterima, dianggap sangat menganggu istirahat orang banyak, tanpa memikirkan bahwa agamanya juga selama sebulan penuh mengganggu tidur orang banyak dengan panggilan melalui pengeras suara yang mana seharusnya tidak perlu. Ditambah pula diperdengarkan lagu-lagu (mungkin) rohani yang dibantu dengan pengeras suara sehingga terdengar oleh semua orang termasuk yang masih tidur. Pada hari besarnya mereka juga melakukan ritual yang cukup membuat pekak telinga sepanjang sore sampai malam.

Memang diperlukan toleransi yang sangat tinggi, tidak ada yang mau mengalah semua merasa benar sendiri atau merasa yang paling berhak terhadap semua kegiatan yang berlaku. Mengalah untuk ketenangan bersama dan saling menghargai tanpa perlu memberi penilaian adalah suatu tindakan yang sangat susah dilakukan, mungkin ini juga terjadi pada saya sendiri.…….

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s