Wanita Bergaun Hitam

Standar

67d2e89dd5209142d3a7a39e6219761d.jpg

“Saya tidak setuju!”

Hah! Aku melihat semua kepala berputar ke belakang melihat siapa yang bersuara lantang tersebut. Seorang wanita cantik berkulit putih bersih, berpakaian hitam-hitam duduk di kursi belakang sambil mengangkat tangannya. Tak terkecuali pater Hans terkejut sambil memiringkan tubuhnya untuk melihat siapa yang menjawab pertanyaan formalitasnya.

“Atas dasar apa Nyonya tidak setuju dengan perkawinan kedua mempelai ini?”

Wow! Kali ini aku harus bilang wow untuk wanita itu. Seperti di film-film mafia, wanita itu memakai gaun terusan berwarna hitam begitu pula dengan topinya, mukanya sebagian tertutup oleh kain hitam tipis transparan yang melekat di topinya. Tapi bibirnya…. merah laksana vampire baru menghisap darah manusia. Vampire? Apakah karena kulitnya yang terlalu putih, sangat kontras dengan pakaian hitamnya dan merah bibirnya?

“Pernikahan ini tidak bisa diteruskan karena laki-laki itu adalah tunangan saya. Panggil saya Nona Elis, Kris calon suami saya.”

Apaaa! Ternyata Kris laki-laki yang memperdayai banyak wanita. Apakah hanya dua wanita yang menjadi korbanmu? Wanita itu dan calon pengantin yang berdiri di depan altar? Tanpa kusadari aku mulai memperhatikan tamu-tamu yang hadir di gereja ini. Sebagian berpakaian cerah, layaknya tamu yang diundang ke misa perkawinan, tapi ternyata ada beberapa tamu wanita yang juga datang dengan pakaian layaknya ke misa requiem, misa berkabung. Apakah mereka juga wanita-wanita yang menjadi korban manipulasi Kris?

“Apakah saya dapat mempercayai pernyataan Nona Elis? Bagaimana Kris, anakku, kau bisa menjelaskan?”

Pater Hans tampak lebih tua sepuluh tahun dari umurnya sekarang dan menunggu jawaban Kris dengan sabar. Mungkin ia tidak menduga akan terjadi peristiwa ini, pada saat anak asuhannya, putra altar terbandel yang pernah ia bimbing. Waktu sekolah dasar aku, Kris dan teman-teman yang lain selalu bermain di pasturan sambil menunggu pater Hans untuk mengajar nyanyi, tepatnya paduan suara anak-anak untuk misa Minggu pagi. Sebulan sekali paduan suara anak-anak mengisi misa Minggu jam sembilan pagi, Kris bisa dua minggu sekali membantu pater Hans dan pater Anton sebagai putra altar. Siapakah Elis? Tampaknya bukan dari lingkunganku atau yang biasa datang ke gerejaku. Siapa wanita-wanita lain yang juga berbaju hitam-hitam itu?

“Hubungan saya dengan Nona Elis sudah selesai pater, sudah tidak ada apa-apanya lagi. Bisa dilanjutkan sakramennya pater?”

Kris tampak berkeringat dan dengan gemetar tangannya meraih tangan di sebelahnya sambil memandang calon istrinya. Perlahan tapi pasti, pater Hans mulai memperhatikan tamu-tamu yang hadir di gerejanya. Sebagian adalah umat yang biasa hadir di misa Minggu pagi, beberapa umat yang hadir tak dikenalnya, ya aku juga tidak kenal mungkin teman-temannya Kris. Pater Hans mengeryitkan dahinya ketika mulai menyadari ada yang beda dari tamu yang hadir di misa ini, ya…wanita-wanita lain yang berpakaian hitam dan bertopi cadar seperti Nona Elis.

“Magda, apakah kau setuju untuk dilanjutkan?”

Dengan wajah penuh kasih pater Hans menanyakan pada mempelai wanita. Umat yang hadir mulai berbisik-bisik, wanita-wanita berbaju hitam itu mulai meninggalkan gereja satu persatu, tak ketinggalan senyuman dari bibir merah yang tampaknya jadi …..mengerikan….mendadak aku menggigil, siapakah mereka, apakah mereka semua calon istri Kris yang digagalkan? Jadi rupanya benar rumor itu…….

Kembali kudengar kalimat yang mungkin tidak perlu ditanya atau tidak diharapkan ada yang menjawab. Kalimat formalitas yang selalu diucapkan pada upacara seperti ini.

“Apakah ada di antara umat yang hadir di sini yang tidak setuju dengan pernikahan kedua mempelai sebelum saya melanjutkan ke sakramen pernikahan?”

Aku melihat kembali wanita-wanita berbaju hitam yang ada di beberapa bangku gereja, duduk diam saling berpandangan satu sama lain. Sedetik….dua detik….sepuluh detik…

“Saya tidak setuju, karena Kris adalah calon suamiku, namaku Magda.”

Ooops! Aku tidak percaya! Akhirnya aku bisa dengan mantap penuh keyakinan mengucapkan kalimat yang telah kuhafal, kuulang berkali-kali semalam bisa begitu saja terucap. Plong….rasanya! Pertanyaan yang selalu diajukan sebelum sakramen perkawinan diberikan kepada kedua mempelai, kali ini sebelum pater Josh memberikan sakramen itu kepada Kris dan Ana.

Teringat kembali saat aku mengoles bibirku dengan pemulas bibir berwarna merah darah. Seperti vampire yang telah menghisap darah manusia. Atau…. dia vampirenya dan aku korbannya? Saat kupandangi baju hitam yang disiapkan Elis untukku lengkap dengan topi serta cadarnya, saat Elis memberikan semangat sebelum pergi ke gereja.

“Jadi kau hadir pagi ini? Sudah kau siapkan bajunya? Kita berangkat bersama-sama, tapi duduknya berpencar. Siap ya, kita hadapi bersama dengan wanita-wanita yang menjadi korbannya, kau pasti kuat”

Ya, rumor itu benar, karena sekarang aku menggagalkan perkawinan Kris yang kesekian kalinya di gereja, seperti gagalnya perkawinanku dengannya dua tahun yang lalu di gereja kota asalku. Aku, Elis dan wanita-wanita berbaju hitam lainnya saling bertukar senyum dan keluar perlahan-lahan sambil menunggu Ana.

Sudah dimuat di Kompasiana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s